“TANGJU” & “HAND-ROLL” SERVICE AFTER LUNCH (2)
Bagi saya sendiri, berada di klub KB terasa begitu menyenangkan, dan rasa-rasanya enggan untuk meninggalkan tempat yang menyediakan aneka fasilitas hiburan tersebut. Di KB ada beberapa fasilitas yang bisa dinikmati para tamu; dari biliar, kafe, lounge sampai karaoke.
Sudah lebih dari 2 tahunan ini, saya selalu menyempatkan diri mampir di klub KB.Entah sckedar menjalani rutinitas nongkrong bersama scjumlah teman dengan bermain biliar sampai menikmati sajian live music yang ada di kafe. Pada malam-malam gaul, KB memang sering dijadikan sebagai ajang transit sebelum akhirnya melanjutkan clubbing ke sejumlah kafe-diskotek trendsetter. Tak heran, kalau pada Rabu, Jumat dan Sabtu malam, KB selalu ramai pada pukul 21.00 WIB sampai 00.00 WIB.
Tengok saja ketika malam mulai menjemput, Di arena biliar, puluhan tamu laki-laki dan wanita saling asyik menyodok bola demi bola. Candatawa menyeruak di antara lantunan musik-musik disko. Puluhan wasit dan pramusaji hilir mudik di sekitar meja yang jumlahnya lebih dari 40 buah itu. Cahaya lampu yang tergantung di atas meja biliar, membias menerangi ruangan yang dialasi karpet warna cokelat tua itu.
Sementara di kafe yang letaknya berada di samping ruang lobby, terdengar lagu-lagu yang dibawakan “home-band”; dari lagu mancanegara sampai lokal. Pada hari biasa, kafe tersebut memang tidak terlalu ramai. Biasanya pada Jumatdan Sabtu malam, baru tampak geliat keramaiannya.
Suasana di kafe itu, tampak sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di music lounge yang berada di lantai dua. Di area music lounge, sekitar pukul 20.15 WIB malam itu, tampak puluhan laki-laki tengah asyik duduk santai ditemani pasangan wanitanya. Lagu-lagu berirama latin, melantun detik demi detik. Di sebuah sola panjang warna hitam, puluhan wanita dengan dandanan seksi duduk santai sambil terus mengamati tiap ada tamu laki-laki yang datang. Di music lounge, nyaris selalu ramai pada malam hari.
Di area ini, para tamu bisa ber-rendezvous dengan sejumlah lady-escort (LC); sekedar berkenalan,bercakap ringan sampai menenggak beberapa gelas minuman sebelum akhirnya berlanjut ke ruang karaoke. Dengan bebas, setiap tamu bisa memelototi puluhan LC yang duduk santai di sofa panjang dan menebar pesonanya. Beberapa staf, mami atau papi di klub KB yang bertugas dan stand-bydi sekitar ruangan, akan memberikan pelayanan ramah.
Malam itu, saya bersama dua teman saya, sebut saja Raymond, 33 tahun dan Zack, 28 tahun (keduanya bukan nama sebenarnya). Cukup lama saya kenal mereka dan sering kali kami menghabiskan waktu di klub KB. Paling sering, kami lebih suka berada di arena biliar; sekedar iseng sambil menunggu saat-saat jam “clubbing” ditabuh sampai taruhan kecil kecilan. Lagi pula, area biliar yang luas dan saban malam tak pernah sepi itu memang mengasyikkan sebagai ajang nongkrong.
Nah, sesekali ketika punya hajalan atau ingin mencari sensasi rekreasi yang yang berbeda, beberapa teman memilih karaoke sebagai pelabuhan terakhir. Seperti malam itu, di penghujung Januari 2003, kami yang sudah bosan menyodok bola biliar selama 1 jam-an, akhirnya sepakat untuk naik ke lantai tiga.
“Ke karaoke aja yuk. Boring nih nyodok bola melulu, mending nyodok yang lain,” seloroh Raymond.
Kami pun menuju ke lantai atas setelah membereskan tagihan meja. Kami berjalan menuju pintu keluar yang letaknya berada di samping bar. Pintu keluar itu tertutup tirai hitam panjang.
Begitu terbuka, akan terhampar pemandangan ruang lobby yang lumayan besar. Dua resepsionis di bawah siraman lampu terang memasang senyum manisnya; menyambut tiap tamu yang datang. Di samping kiri terdapat arena biliar lagi khusus tamu VIP, sementara di samping kanan terlihat dua penyanyi wanita tengah beraksi di atas panggung. Beberapa tamu ikut bergoyang di depan panggung.
“Mau mampir ke kafe dulu atau langsung ke karaoke?” tanya Zack.
“Di kafe mau ‘nyodok’ apaan. Entar lama lagi. Langsung ke karaoke aja,” tegas Raymond.










0 komentar:
Posting Komentar