Minggu, 15 Januari 2017

Ekspo Ayam Kampus Bikin Ibu-ibu Merinding


Ekspo Ayam Kampus Bikin Ibu-ibu Merinding


Sepak terjang para mahasiswi di dunia prostitusi online atau E-Prostiusi membuat ibu-ibu merinding. Mereka tidak menyangka para perempuan muda yang menyandang status terhormat itu bisa menjual diri dengan sangat vulgar.


“Merinding saya mendengar cerita tentang mereka yang terlibat prostitusi online”,  tutur Wiwik Purwantini, ibu rumah yang tinggal di Blimbing, Kota Malang.

Hal senada dirasakan Indah. Perempuan berusia 38 tahun ini memiliki dua anak perempuan. Satu akan lulus SMA tahun ini.


“Saya jadi kepikiran yang bukan-bukan. Kalau anak nggak pulang-pulang rasanya sudah deg-desan. Padahal, anak punya kegiatan luar sekolah cukup banyak,” katanya.

Bagi Wiwik dan Indah, kabar ayam kampus sebenarnya bukan isu baru.

Tetapi dulu, kabar begitu hanya beredar terbatas dan lebih mirip desus-desus. Sedangkan sekarang ini, dengan era digital, praktik itu menjadi sangat nyata.

Berdasarkan penelusuran, Surya menemukan puluhan akun di media sosial yang berisi promosi prostitusi.


Indah misalnya, kini lebih cukup intens melihat anaknya dalam penggunaan media sosial. “Di internet kan dia bisa mengakses apa saja. Ini saya jadi perhatian utama saya,” kata Indah.

Setiap saat, dia berusaha memantau dengan siapa saja anaknya berteman di Facebook, Twitter, Path, atau Instagram.

“Saya bukannya membongkar-bongkar isi handphone-nya karena itu justru akan melanggar privasi anak saya sendiri. 

Saya hanya upayakan bertanya apa yang dibahas oleh dia kalau kadang dia terlihat senyum-senyum sendiri sambil BBM-an. Tetapi, kuncinya memang tetap komunikasi yang baik,” sebutnya.


Soal komunikasi yang menjadi kunci, itu pula yang dipraktekkan Wiwik.

”Tiap pulang sekolah, saya selalu tanya ada kabar apa saja di sekolah. Lama kelamaan ini menjadi kebiasaan. Mereka cerita sendiri. Bahkan tidak ada lagi yang mereka rahasiakan dari orangtua,” ujarnya.

Wiwik mengaku tidak mungkin melarang anaknya akrab dengan internet.

Juga tidak mungkin kemudian membatasi smartphone anaknya.  Itu akan membuat mereka justru gagap menghadapi era.

“Yang saya tekan lagi, anak-anak rajin salat. Saya percaya  kalau rajin salat,  lebih ingat mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” lanjutnya.




0 komentar:

Posting Komentar