Sabtu, 14 Januari 2017

“MOUNT BLOW” SERVICE & LOLY THAI

“MOUNT BLOW” SERVICE & LOLY THAI


LAYANAN “oral sex” dengan variasi baru ala gadis-gadis Macau.
“Aku datang dari Macau. Sudah enam bulan aku bekerja di sini. Laki-laki Indonesia baik-baik ya. Aku jarang melayani tamu yang kasar. Kebanyakan kalau minta sesuatu, mereka bilang dengan sopan.”
Kalimat itu meluncur dari bibir tipis seorang gadis berwajah oval dengan kulit putih susu. Namanya Amoy—sebut saja begitu. 


Gadis berambut lurus panjang dan bertinggi lebih dari 168 cm itu, berbicara dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Malam itu, dia santai di atas sofa krem sambil sesekali mencomot hidangan buah-buahan segar dan dingin yang tersedia di meja kaca. Cahaya lampu menyala temaram. Hanya bias kemuning yang menerangi seluruh ruangan. Bibir tipis Amoy masih saja berucap dengan suara perlahan.

“Aku betah kerja di sini. Tapi, aku kesulitan untuk berkomunikasi. Bahasa Inggrisku payah. Dan itu sering kali membuat aku nggak bisa ngobrol banyak dengan tamu. Padahal, aku kan seneng ngobrol, bagi-bagi cerita.”

Di ruangan itu, Amoy memang bicara sendiri. Ada Doni, teman saya, lalu Loly, gadis kencan asli Thailand yang menjadi pasangan Doni dan terakhir, saya sendiri. Hampir setengah jam, saya dan Doni bersantai di ruang karaoke ditemani Amoy dan Loly.


Prosesi basa-basi dengan percakapan ringan itu hanya berlangsung sekitar lima belas menit. Maklum, terns terang, saya merasa kesulitan berkomunikasi dengan Amoy lantaran dialog bahasa Inggrisnya yang gagap. Amoy hanya fasih berbahasa Mandarin. Bahasa Indonesia pun hanya tahu beberapa kalimat umum seperti terima kasih, selamat malam, selamat siang. Itu itu saja. Amoy pun hanya hafal lagu-lagu Mandarin, sementara lagu Indonesia yang dia bisa nyanyikan paling satu sampai dua lagu saja.

“Aku memang diwajibkan tahu satu atau dua lagu Indonesia. Yang paling aku hafal cuma lagunya Nike Ardila,” tukas Amoy sambil tersipu. Pantas, malam itu, Amoy tampak “terbiasa” mendendangkan lagu Bintang Kehidupan-nya. Nike Ardila (alm), meskipun logat Melayunya masih aneh di telinga saya.

Doni yang duduk tak jauh dari saya, rupanya tengah asyik dengan pasangannya, Loly. Saya tidak tahu persis apakah Loly itu nama aslinya. Tapi yang jelas, Loly ini adalah salah satu primadona gadis Thai yang ada di klub CI. Gadis asli Thailand yang punya postur tubuh tinggi semampai ini memang bak seorang model. Dengan tinggi 172 cm, tubuh ramping, paras cantik, kulit putih dengan stelan jins dan kaos ketat, rasa-rasanya memang pantas Loly disebut primadona.


Selang beberapa menit kemudian, Doni pamit untuk masuk kamar lebih dulu. Saya hanya tersenyum dan mengiyakan. Setelah Doni dan Loly menghilang di balik pintu, tinggal saya dan Amoy duduk berdekatan di sola. “Mau dimulai sekarang?” tanya Amoy, dan saya mengangguk pelan. Amoy lalu memencet tombol putih yang menempel di dinding, memanggil waiter.

Waiter laki-laki masuk. Amoy memesan sesuatu. Sambil menunggu, saya iseng menyanyikan lagu dangdut Benang Biru-nya. Meggy Z. Lagu usai, waiter masuk membawa dua gelas minuman. Gelas pertama berisi teh ginseng setengah panas, gelas kedua berisi air putih dengan es batu. 

Rupanya, inilah awal proses “mount blow” service,sebuah pelayanan oral sex dengan menggunakan teh ginseng dan air dingin. Amoy lalu mulai tahapan paket seks “mount blow”. Detikdetik itu berlangsung mendebarkan. Teh ginseng menjadi air pembuka yang direguk Amoy untuk memulai “service”-nya. Lalu, ketika sudah mau mendekati tahapan klimaks, Amoy segera mereguk air dingin dan menuntaskan segalanya.
Tuntas, tas, tas…!


0 komentar:

Posting Komentar