Jumat, 03 Februari 2017

The Flying Bra Bukan Striptise (2)

The Flying Bra Bukan Striptise (2)




Di kelab NZ, suasana lebih santai dengan tamu-tamu terpilih yang jumlahnya mungkin tak lebih dari 100 orang. Dan pastinya, ratusan lady-escort disediakan sebagai teman kencan untuk ngobrol, minum, nyanyi, dan pelayanan spesial lainnya yang bersifat lebih personal.


Lihat saja ketika prime-time, antara pukul tujuh hingga sebelas malam. Lebih dari enam puluh cewek menyesaki kursi yang ada di sekeliling bar. Aroma parfum menebar berbaur bersama suara musik dan canda tawa. Sebuah pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Cewek-cewek cantik dengan make-up halus, rata-rata mengenakan rok mini dan bersepatu hak tinggi. Tebar pesona dengan senyum ramah, mengerling dengan hangat.

Dari bar, sesekali saya mencuri-curi pandang, mengamati gerakgerik puluhan cewek yang ber-gerombol. Siapa tahu, sosok Cathy ada di antara mereka. Cewek berumur 20 tahun bertampang imut-imut itu sudah dua bulan ini saya kenal dengan baik. Berawal dari kunjungan kelima saya ke kelab NZ, saya bersama tiga orang teman mem-booking ruangan karaoke. 

Biasalah, empat laki-laki berkaraoke, rasanya sepi dan nggak seru tanpa pendamping. Mami Lan membawa sepuluh orang LC untuk berkontes dan salah satunya, Cathy. Karena tampang imutnya itu, saya akhirnya mem-booking dengan langsung membelikan tiga voucher sekaligus.


Ini bukan sejenis voucher hanphone, tetapi nilai transaksi yang berlaku setiap tamu mau booking LC. Aturan umumnya, booking satu LC= satu voucher = Rp 400 ribu. Aturan khususnya, terserah tamu. Seperti pada kasus Cathy. Hanya karena dia imut-imut dan kebetulan ada tamu lain yang mau mem-booking-nya, saya bela-belain mengeluarkan tiga voucher supaya dia tidak menerima order dari tamu lain.

Alhasil, umpan tiga voucher itu cukup ampuh dan berhasil membuat Cathy menemani saya malam itu, setidaknya untuk tiga jam lebih. Dari berjoget, minum bareng sampai kissing dalam beberapa kesempatan; di pipi oke, di daerah bibir, dan leher, wait,.. wait, itu urusan masing-masing. 

Lap-dance, OP Service & Booking Out

BAGI banyak laki-laki, menghabiskan sekian jam di NZ ataupun tempat-tempat sejenis, jadi pilihan yang menggiurkan. Pulang kantor, mampir dua hingga tiga jam di karaoke. Belum puas, bisa terus melanjutkan acara nyanyi-nyanyi ditemani gadis-gadis cantik. Masih kurang puas? Pukul sepuluh ke atas, bisa pindah ke bar atau sewa satu booth— sebuah ruangan private yang dilengkapi sofa, meja, dan ditutup dengan tirai yang biasa juga disebut ceilo. Larut dalam kemeriahan pesta dan setiap saat bisa menikmati liukan sexy dancers.


Lagi-lagi, pilihannya memang tidak jauh dari LC. Para gadis yang job description-nya untuk menyenangkan tamu itu sepertinya memang jadi daya tarik tersendiri. Boleh dibilang, sebagian besar tamu laki-laki yang having fun di NZ, pertama-pertama akan memburu LC tercantik, baik hati, tidak sombong, dan cepat beradaptasi dalam segala kondisi dan situasi. Tak heran, banyak tamu yang sudah punya langganan LC. Beberapa di antaranya malah ada berstatus “pacaran”, “teman tapi mesra”, bahkan sampai “selingkuhan”.


Tidak harus seks, itu yang mesti diingat. Jangan selalu berpikir ngeres kalau ada laki-laki pergi ke karaoke lalu menyewa LC pasti ujungujungnya seks. Nggak juga lho! Banyak tamu yang butuh ditemani LC karena ingin mengobrol ngalur-ngidul, atau sekadar butuh teman untuk tertawa.
Kegiatan seks, tak bisa dipungkiri memang ada. 

Tempat hiburan yang menyediakan jasa-jasa LC, rasa-rasanya memang tidak mungkin kalau nggak ada transaksi seks. Dari seks kecil-kecilan yang bersifat foreplay doang sampai seks intercoursing.

Pertama-tama, biasanya para LC yang di-booking di booth atau ruang karaoke akan memberikan pelayanan lapdance. Kedua, ehm…jangan kaget kalau ada LC yang ngomong begini: “Mau party nggak?” atau “Party yuk, party..!” Kalimat itu berarti, para LC mengajak tamu untuk masuk ke pesta yang sebenarnya. Begitu tamu bilang iya, para LC akan segera beraksi. Mula-mula menari di atas meja sambil mulai melepaskan baju satu per satu. 

Seterusnya, ya, getu deh…tarian akan terus berlangsung sampai akhirnya terjadi interaksi hiperaktif. Itu juga dengan satu catatan: tamu mesti tahu diri dan tidak ragu ragu untuk mengeluarkan tip dalam jumlah besar.

 Makin banyak tip yang ke luar, para LC makin berani menyuguhkan segala bakat dan kemampuannya. Tidak cuma sekadar ber-lapdance atau dengan sukarela menjadi supergirl yang sangat liar dan ganas. 

Jujur, uang memang masih menjadi senjata sakti di NZ. Artinya, siapa yang rajin menabur uang, dijamin bisa bergelar “raja”. Setiap saat dike-lilingi, dilayani, dan dimanjakan puluhan dayang cantik.







0 komentar:

Posting Komentar