Minggu, 19 Maret 2017

SUITE SALOME (2)

SUITE SALOME (2)



Lagi asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba dari pintu kamar muncul seorang wanita mengenakan ceiana panjang dan blazer berwarna hitam. Mami Yeni, begitu ia menyebut dirinya sebagai koordinator karaoke. Hary rupanya sangat kenal baik dengan Mami Yeni, begitu pula sebaliknya. Terbukti, mereka berdua tampak akrab. 


Kedatangan Mami Yeni untuk memastikan apakah pertunjukan bisa dimulai. Katanya, para penarinya sudah stand by dan tinggal tunggu perintah. Menurut Mami Yeni, karaoke di hotel MF pada dasarnya tidak menyediakan gadis-gadis striptease secara langsung. 

Kalau pun ada tamu yang berminat, biasanya diambil dari luar. Selama ini, Mami Yeni menggunakan jasa seorang germo sekaligus pemilik event organizer yang pu-nya sedikitnya dua puluh stripper. Mereka siap dipanggil kapan pun. Sebagian besar mereka ber-usia dua puluh tahunan.


“Kalau ada tamu yang butuh stripper, kita tinggal panggil aja. Semua tergantung permintaan. Dari striptease biasa sampai yang berpasangan tersedia,” jelas Mami Yeni.


Saking asyiknya ngobrol, Mami Yeni pun ikut-ikutan nimbrung plus minum-minum sebentar. Segelas Illusion sejenis minuman yang memiliki campuran alkohol diteguknya.

“Kalau striptease biasa, udah banyak tempat yang menyediakan. Makanya, di sini, yang paling laku striptease couple, cewek-cowok,” imbuh Mami Yeni. 

Menurut Mami Yeni, tarif per show untuk striptease couple kelas standar sekitar Rp 2 hingga 3 juta. Sementara untuk yang biasa sebesar Rp 450 ribu per orang. Harga sangat tergantung pada tipe stripper yang diorder tamu. Untuk kelas VIP, harganya bisa naik dua kali lipat dari kelas standar.

Seperempat jam berlalu, Mami Yeni berjalan mendekati dua teman Hary yang lagi berkaraoke ditemani dua LC. Saya berpikir, pastinya Mami Yeni bertanya kapan show bisa dimulai. Dan benar saja, tak lama setelah Mami Yeni keluar, muncul sepasang penari cewek-cowok di ruangan karaoke.

Musik menghentak. Tanpa banyak basa-basi, sepasang penari itu langsung memperlihatkan ge-rakan-gerakan yang sensual. Namanya juga tarian couple, selama hampir setengah jam, kami disuguhi adeganadegan hot, tak ubahnya sex live show di atas panggung.


Ah, sudahlah! Antar percaya dan tidak, saya jadi serba salah menyaksikan pertunjukan itu. Bercampur kaget dan gugup, saya jadi salah tingkah sendiri. Bagaimana tidak? Dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikan adegan percin-taan cewek-cowok yang begitu vulgar.

 Lagi pula, saya diajak Hary di hotel MF bukan mau menik-mati pertunjukan live show di karaoke tapi untuk tujuan yang berbeda. Kami punya rencana lain yang menurut Hary, jauh lebih gila. Makanya, tanpa berlama-lama lagi, kami pun pamit keluar ruangan. 


“Kita mau nonton show ato ada planning lain?” tanya saya ke Hary.
“Ya…iya. Udah nggak sabar bener,” seru Hary.

Bertiga, kami meninggalkan ruangan karaoke menuju lift, keluar di lobby lalu masuk ke kafe. Musik lembut mengalun. Lampu menyala agak temaram. Suasana makin ramai. Tidak saja oleh tamu laki-laki, tetapi juga oleh puluhan gadis dari Uzbekiskan dan Mandarin. 

Beberapa di antaranya, malah duduk semeja, berhadapan-hadapan. Soal dandanan? Ehm…yang pasti, rata-rata berbaju seksi. Apalagi gadis Uzbekistan yang kebanyakan punya postur tubuh tinggi dengan badan moleg. 





0 komentar:

Posting Komentar