Senin, 03 April 2017

Chicken Nite Private Party (2)

Chicken Nite Private Party (2)



Kehidupan dunia malam - Ini untuk kali ketiga, Jo begitu ia disapa, mengajak saya untuk menghadiri pesta serupa. Pada tahun 1999 lalu, Jo pernah juga mengajak saya menghadiri pesta pribadi yang digelar di sebuah rumah mewah di kawasan Kemang. Dalam pesta itu, terus terang, saya sempat terkaget-kaget karena tiap tamu yang datang tidak saja tamu-tamu pribumi tapi juga kalangan bule, mesti menanggalkan salah satu baju yang dikenakan. Mau pilih baju atas, atau bawah, terserah kemauan tamu.


Tentu saja, pesta yang berlangsung sejak pukul 21.00 WIB hingga dini hari itu diwarnai sejumlah acara yang tidak saja membelalakkan mata laki-laki tapi juga membuat histeris puluhan wanita yang datang. Bisa dibayangkan, sekitar seratus pria dan wanita berada dalam sebuah rumah mewah dengan busana nyaris telanjang.

Singkat cerita, dalam pesta pribadi itu selain bisa menikmati aneka suguhan tarian syahwat, tamu bisa juga mendapatkan pasangan kencan di tempat. Pesta yang diberi tema ‘half-body’ itu pun dari menit ke menit tak ubahnya menjadi arena “sexparty”. 

Dinner Plus. Nah, dalam satu kesempatan di awal Februari 2002, saya kembali bertemu Jo setelah hampir enam bulan putus kontak. Maklum, menurut kabar, Jo mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu marketing­nya di Singapura atas biaya kantor. 
Kami bertemu di tempat favorit, persisnya di kafe BQ, di Plaza Senayan. Di kafe inilah, sebelumnya kami sering menghabiskan sore menikmati secangkir kopi panas sambil bertukar cerita tentang petualangan malam Jakarta yang seru. 

Sebagai seorang marketing director, Jo bukan tipikal orang yang suka duduk di belakang meja. Dan untuk ukuran jabatan yang dipegang di sebuah perusahaan bonafit dengan klien asing, Jo termasuk esmud yang secara material lebih dari cukup. 


Belum lagi latar belakang keluarganya yang berasal dari keluarga berada. Maklum, ayahnya sampai kini masih menduduki jabatan direktur di sebuah perusahaan tekstil. Tak heran kalau gaya hidup Jo tampak serba kosmopolis. Dari dandanan sampai tempat clubbing yang dipilih. Di jajaran kalangan nite-society,nama Jo cukup familiar.


Hampir tiap Rabu Gaul dan weekend, Jo selalu menyempatkan diri menyambangi sejumlah tempat clubbing favorit seperti Zanzibar dan Prego di Jl. Iskandarsyah, Jakarta Selatan atau Hard Rock Cafe di Jl Thamrin, Jakarta Pusat.

Tidak hanya itu saja, Jo juga sering menghabiskan malam di sejumlah club atau karaoke kelas atas. Tentu saja karena pergaulannya yang selalu bergumul di dunia nite-society, Jo boleh dibilang kaya informasi. 

Apalagi yang berhubungan dengan dunia malam bawah tanah yang sarat peristiwa-peristiwa aktual seputar perilaku sex-metropolist.Dari tempat pelesir cinta sampai party­party rahasia. 

Jam baru beranjak dari pukul 19.35 WIB ketika kami sama-sama meneguk gelas bir ketiga. Suasana di kafe BQ makin ramai. Semua meja tampak terisi. Maklum pada Rabu sore, kafe BQ memang menjadi tempat singgah sejumlah kalangan. 

“Time to go,” ceplos Jo mengajak saya untuk bergerak dari kafe BQ.Padahal, sore itu beberapa meja di kafe BQ dipenuhi gadis gadis cantik. Agak sayang kalau melewatkan pemandangan indah seperti itu.


Katanya, undangan dinner mestinya dimulai pada pukul 19.00 WIB. Namun Jo sengaja tak mau ikut prosesi acara dari awal. Makanya, dengan ringan ia mengata-kan, mendingan datang terlambat. 

“Yang penting bukan makan malamnya, tapi embel-embelnya itu lho, ok punya,” tandas pria berambut hitam dengan potongan model Tom Cruise. Kami mengendarai sedan BMW warna merah dengan kecepatan sedang. 

Dari kawasan Senayan, kami langsung masuk jalur Jl. Sudirman. Lalu lintas tampak ramai. Arus balik malah masih dipenuhi deretan mobil yang berjalan merayap. 

Arah perjalanan kami malam itu menuju sebuah komplek perumahan elit di kawasan Kelapa Gading. Jarum jam menunjuk angka 20.25 WIB ketika kami memasuki kawasan perumahan elit tersebut. Selama perjalanan kami tak menemui kesulitan berarti. Paling-paling, sesekali kami mesti mengendarai mobil dengan ngantri.

Rumah bernomor 45 yang terletak di Jl. PN II itu tak begitu sulit kami temukan. Petugas jaga di gardu pintu masuk, dengan cermat menunjukkan arah jalan. 
Setelah melewati sebuah rumah mewah bercat krem dengan pagar besi silver mengelilingi halaman depan yang lebih mirip petamanan, kami berbelok ke kiri. Sekitar sepuluh meter kemudian, kami menemukan rumah bernomor 45. “Ini dia rumah Michael yang kita caricari,” ujar Jo tersenyum.


Rumah tersebut cukup besar dan tampak mewah dengan model bangunan modern. Di halaman depan, tampak beberapa mobil parkir. Tampak mewah memang. Menurut Jo rumah itu milik salah seorang kliennya bernama Michael yang berwarganegara Jerman. 

Michael sendiri menjadi bos di sebuah perusahaan elektronik yang advertaisingnya banyak ditangani perusahaan, di mana Jo bekerja. Rumah Michael sama seperti rumah-rumah lain yang dari luar tampil mentereng. 

Dikelilingi pagar besi tinggi warna silver dan sebuah pos penjagaan. Kami berada di depan rumah Michael sekitar pukul 20.30 WIB ketika satpam membukakan pintu gerbang. Sudah ada sedikitnya enam mobil parkir di halaman depan.
Tiga diantaranya mobil mewah yang harganya sudah bisa ditaksir di atas lima sampai tujuh ratusan juta. Di teras depan, tampak Michael tengah mengobrol dengan sepasang pria­wanita.Begitu melihat kami, dengan ramah Michael langsung menyilakan kami ikut bergabung. 

Di ruang tamu sudah tampak beberapa wanita dengan busana-busana khas pesta dan enam laki-laki berpakaian rapi. Tak lama kemudian, kami masuk ke ruang tamu bersama-sama. Dan Michael mulai mengenalkan kami kepada semua tamu undangan yang hadir. 


Paling tidak, ada sekitar 22 tamu atau lebih 12 diantaranya adalah wanita, saya tidak begitu tahu persis jumlahnya. Tapi, dari tamu pria yang dikenalkan, dua diantaranya saya masih ingat nama-nya. 

Pertama bernama Paul, kira-kira berumur 32 tahun, asal Australia dan menjadi mitra kerja  Michael. Orang kedua adalah John, berusia 29 tahun, berasal satu negara dengan Michael, Jerman, dan sehari-hari menjadi project director di perusahaan yang dikomandani Michael.

Sementara beberapa tamu pria lainnya, saya tidak ingat namanya. Wajah-wajah mereka seringkali beredar di sejumlah kafe. Dan kalau ada acara tertentu yang temanya berhubungan dengan company-party, Michael, Paul maupun John,seringkali ada. 

Tak heran karena konon mereka memang terkenal sebagai biangnya pesta. Yang menarik, dari sejumlah tamu wanita yang datang, hanya ada dua atau tiga yang berwajah bule. Lainnya, alamak, sisanya berwajah pribumi. Dan yang cukup mengagetkan, wajah-wajah mereka, bagi saya maupun Jo sudah tak begitu asing. 

Empat diantara tamu wanita pribumi tersebut, cukup familiar di mata kami. Susan misalnya, gadis berumur 24 tahun, memiliki badan berisi dengan kulit sawo matang, seringkali kami jumpai di sejumlah kafe-kafe elit di Jakarta yang menjadi pusat tongkrongan para bule. Susan biasanya selalu ada pada malam-malam weekend di kafe KT, di sebuah hotel berbintang empat di kawasan Jakarta Pusat.






0 komentar:

Posting Komentar