Arabian Nite Bachelor Party Tengah Digandrungi Masyarakat High Class
Melepas ‘lajang’ dengan dikelilingi wanita-wanita cantik dengan aneka pesta yang menggiurkan dan memabukkan. Trend budaya urband legend life yang kini tengah digandrungi masyarakat high class.
Pesta lepas bujang di kalangan generasi muda Jakarta, apalagi mereka yang masuk golongan the have, sudah bukan komoditi baru lagi. Kerap kali, seorang pria yang hendak menikah menggelar pesta di sebuah tempat tertentu bersama kawan kawan karibnya, entah itu diskotik, kafe, pub, klub atau private room.
Pesta yang juga populer sebutan bachelor party ini, di kalangan kaum jetset dan selebritis praktis menjadi semacam kewajiban. Apalagi bagi kalangan yang notabene hidup di komunitas yang terbiasa dengan budaya pesta, hura-hura dan having fun.Ya, tentu saja mereka pasti dari kalangan yang berduit, hidup serba kecukupan.
Di sejumlah kafe, pub dan tempat-tempat hiburan lain, seringkali menjadi ajang untuk pesta lepas bujang. Dan yang menarik, pesta-pesta tersebut selain digelar dengan cara biasa, banyak juga yang merayakannya dengan pesta yang masuk kategori luar biasa.
Baca juga : Atmosphere Spa Tempat Spa Plus Plus Ini Memiliki Cewek Cantik, Seksi dan Bisa Making Love (ML)
Luar biasa karena ujung-ujungnya memang tak lepas dari nuansa seks. Uniknya, selama beberapa tahun mengikuti perkembangan pesta-pesta tersebut, saya belum juga habis mengerti karena bagi sebagian kalangan, malah digelar dengan ragam tema yang berbeda-beda.
Seperti dikemas dalam bentuk pesta Hawai, pesta ala Las Vegas, Arabian Nite dan Iain-lain. Entahlah, apa yang mendasarinya, tapi budaya itu ternyata begitu populer dan menjadi tradisi. Paling tidak dalam beberapa tahun terakhir ini budaya pesta lepas bujang terus berlangsung.
Dalam perjalanannya, ada satu pesta lepas bujang yang pernah saya ikuti dan begitu melekat di benak saya. Bukan apaapa, pestanya boleh dibilang ekstra panjang karena berlangsung semalam suntuk, dari satu tempat ke tempat berikutnya.
Ceritanya bermula ketika pada Jumat malam, saya bertemu dengan seorang kawan di kafe HR di bilangan Thamrin. Sebut saja, Roy, berumur 31 tahun. Yang saya tahu, ia adalah pemilik dari sebuah perusahaan peti kemas yang juga menjadi pengusaha keramik.
Pertemuan malam itu dengan Roy, entah sudah yang keberapa kali.Karena pada malam-malam weekend, saya kerap menjumpainya di sejumlah tempat hiburan di Jakarta. Dan malam itu, Roy bercerita akan menikah.
Rupanya, sebelum melepas masa lajangnya, oleh teman-teman dan relasi bisnis, Roy didaulat membuat pesta. “Nggak mau tau, pokoknya besok you mesti datang. Saya tunggu jam sembilan malam. Ok,” tukasnya ketika kami duduk di meja bar sambil menyeruput segelas Long Island.










0 komentar:
Posting Komentar