Nudies Party Bawah Tanah (3)
Tak terasa, lima belas menit kemudian, Saya telah memasuki kawasan Pluit. Alex yang memegang kemudi sesekali bertanya pada Hendra rute menuju tempat yang Saya tuju. “Saya agak lupa jalannya,” tandas Alex. Saya menyangka akan dibawa ke kawasan pusat hiburan Pluit yang tak jauh dari sebuah pusat perbelanjaan yang baru beberapa tahun terakhir ini dibangun.
Ternyata saya salah. Mobil Mercedez yang dikemudikan Alex malah memasuki kawasan yang saya belum tahu sebelumnya. Saya terus saja menebar pandangan ke segala arah.
Ketika saya melewati sebuah bangunan Mal lama, Saya baru tersadar. Apalagi ketika saya melihat sebuah gedung bioskop yang memajang poster-poster film dalam ukuran besar. “Oh, Saya tahu sekarang,” sergah saya.
Mal lama dan gedung bioskop itu yang menjadi patokan saya. Menurut penuturan Alex, kawasan yang kami tuju saat itu masuk kawasan di mana banyak tinggal bos-bos berduit. Rumah-rumah yang saya lihat memang seperti kompleks perumahan elit.
Puluhan rumah dengan bangunan mewah, berjajar rapi. Rata-rata berpintu gerbang besar. Lalu, kami memasuki bangunan perumahan besar. Tak ada papan nama atau logo layaknya sebuah tempat hiburan.
Yang agak aneh, dari balik kaca kami melihat ada sekitar lima pria berbadan tegap berdiri di depan pintu. Begitu berhenti, dua orang sigap menghampiri kami. “Bisa saya bantu, bos!” sapanya sopan.
Sementara pria satunya melihat-lihat ke dalam mobil dengan sorot mata tajam. Begitu membuka kaca dan melihat Hendra, pria tegap itu langsung tersenyum ramah dan bersikap hormat. Rupanya, Hendra sudah dikenal mereka dengan baik.
Atas permintaannya, kami mencari parkir sendiri sambil melihat-lihat situasi. “Silakan memutar ke belakang,” kata pria bercelana jeans dengan jaket hitam. Dari halaman depan kami masuk ke area parkir. Cukup luas. Area parkir itu kira-kira bisa menampung 75-100 mobil lebih.
Saya lihat puluhan mobil mewah parkir rapi. Hanya jenis mobil mewah yang ada. Mercy, BMW, Range Rover dan Volvo. Di area parkir, juga terdapat sedikitnya lima pria berbadan tegap. Setelah memeriksa, salah seorang dari mereka membantu memarkir mobil yang kami tumpangi.
Baca juga : Party Janda-Janda Tajir di Ibu Kota Jakarta
Dari halaman parkir kami naik tangga. Begitu membuka pintu, kami langsung disambut seorang pria berpakaian rapi. “Malam bos. Silakan langsung ke dalam,” ujar pria itu mempersilakan. Rupanya, Hendra cukup dikenal di tempat itu. Itulah yang membuat saya merasa aman, meskipun harus menghadapi pemeriksaan dan tatapan mata tajam.
Padahal, kalau dipikir-pikir, mustahil masuk kalau tak ada yang ‘membawa’. Setidaknya, baru sampai di depan pintu masuk, sudah tertahan oleh penjaga. Kami sampai di ruang dalam.
Ada beberapa bidang ditata seperti layaknya sebuah restoran. Ada bar kecil. Beberapa pramusaji yang semuanya laki-laki tampak mondar-mandir melayani tamu yang datang.
“Di sini tempat awalnya. Kalau di hotel, ini lobby-nya,”jelas Hendra. Pria yang selalu merokok cerutu itu segera menghampiri seorang pramusaji. “You punya bos mana. Tolong bilang, Hendra sudah datang,” katanya perlahan. Pramusaji itu buru-buru pergi. Kami memilih meja dekat bar.
Saya amati, ruangan yang menurut Hendra menjadi lobby ini tampak biasa-biasa saja layaknya restoran Jepang atau Cina. Tidak ada interior khas yang ditonjolkan. Palingpaling beberapa hiasan khas Cina seperti kelambu dan beberapa gambar yang dipajang di dinding.
Seperempat jam kemudian, seorang pria bermata sipit mengenakan jas dan dasi dengan rambut klimis disisir menghampiri kami. “Pak Hendra, gimana you punya kabar,” sapa pria itu kepada Hendra, ramah. “Ini teman you yang pernah you ajak ke sini dulu kan?” sambung pria itu ketika melihat Alex.
Pria berjas itu, sebut saja Robby, 34 tahun. Rupanya, pria keturunan itu pemilik tempat tersebut. Hendra memperkenalkan saya sebagai temen dekat, tanpa status macam-macam.
Berkat Hendra, sayapun diterima dengan ramah, meskipun berkulit cokelat matang dan secara penampilan tidak serapi mereka. Di kalangan mereka, kepercayaan rupanya memegang peranan penting dalam pergaulan maupun bisnis.
Tak jarang di antara mereka terjadi transaksi tanpa melalui tanda bukti tertulis dan berlangsung aman dan lancar. Saya jadi pendengar setia di tengah obrolan mereka seputar bisnis. Terdengar akrab dan cukup terbuka satu sama lain.
Bahkan sesekali terdengar tawa meledak lantaran sering ada gurauan konyol yang muncul tiba-tiba. Jam telah beranjak dari pukul 20.30 WIB. Robby untuk kesekian kali memesan minuman. “Bagaimana you punya tempat. Tambah ramai kan?” tanya Hendra. “Ya, masih seperti dulu. Members guestnya lumayan naik.
Seperti you lihat kan. Masih tetap ramai,” jawab Robby sambil meneguk segelas black-russian. “Ngomong-ngomong, you masuk apa cuma nengok,” tanya Robby. “Sudah ke sini, masa aku cuma mau mampir. Koleksi-nya nambah nggak?” jawab Hendra sambil balik bertanya soal koleksi.
“Ya, pastilah. Kalau nggak nambah, ntar banyak member-guest yang bosan,” sergah Robby, tertawa. Rupanya, yang dimaksud dengan koleksi oleh Hendra tak lain “wanita”. Dengan tersenyum, Robby mendekatkan mulutnya ke telinga Hendra.












0 komentar:
Posting Komentar