Karnaval I: “AFTERNOON SEX” CHINA
GIRLS (3)
“Bang, aku boleh pesen Black Label coke?” Giliran Yenny yang dengan spontan memesan minuman kebangsaannya itu begitu kami mengiyakan. “Black Label coke, dobel.Satu ya,” ordernya kepada pramusaji wanita yang berdiri tak jauh dari meja kami.
Sementara di atas panggung, para penyanyi masih saja melantunkan lagu-lagu yang diminta sejumlah tamu, kami mulai terlibat pembicaraan ringan dengan Alin dan Yenny.
Baca juga : Buah apel ternyata dapat meningkatkan gairah wanita di atas ranjang
Selama kurang dari lima belas menit, kami mendengar cerita Alin yang dengan terus terang mengatakan, belum pemah pergi ke “tanah leluhur”nya meski dia berdarah Cina.
Katanya, dia lahir dan besar di Jakarta. Orang tuanya sehari-hari mengelola sebuah toko kecil.
Yenny sendiri tanpa malu bercerita kalau pernah mengikuti beberapa casting untuk iklan, klip dan sinetron.
Beberapa kali pernah kebagian peran figuran di beberapa sinetron. Meskipun hanya numpang lewat, dengan nada penuh percaya diri, Yenny bercerita panjang lebar ihwal pekerjaan sampingannya itu.
“Namanya juga usaha. Itung-itung cari pengalaman,” tukas gadis yang dalam seminggu biasanya hanya 3-4 kali “mampir” ke TSC, bekerja paruh waktu, sekitar 3-4 jam-an.
Ronny yang tampak mulai enjoydengan Alin, tak mau berlama-lama lagi. Keduanya memutuskan untuk segera menyelesaikan transaksi. Alin mengajak Ronny hengkang dan berjalan menuju ke arah pintu masuk.
Di sebelah kanan, selain terdapat toilet, temyata juga ada satu pintu lagi. Pintu itulah yang menjadi akses masuk menuju ruangan yang di dalamnya ada sedikitnya 10-15 kamar.
“Kalau lagi rame, biasanya ngantri. Nunggu komando dari Mami dulu, baru bisa masuk,” jelas Yenny.
Beruntung sore itu, tamu yang datang ke TSC tidak terlalu ramai. Biasanya, kalau hari Sabtu dan Minggu, kamar yang tersedia sering kali “over-load”. Jadi tamu harus sabar menunggu giliran.
TIDAK ada pelayanan pijat spesial yang ditawarkan di TSC. Yang ada hanya transaksi seks belaka, lain tidak. Menu gadis Cina dan ABG-lah, yang akhirnya menjadi daya jual utama yang menarik tamu untuk ber-“wisata birahi”, one short time.Lagi pula, dari sisi harga sangat terjangkau oleh kantong-kantong laki-laki yang sebulan ratarata bergaji di atas Rp 2 juta.
“Sewa kamarnya Rp 50 ribu, langsung dibayar di kasir. Untuk ceweknya Rp 200 ribu, belum termasuk tip,” ccplos Yenny. Jadi, kalau dihitung-hitung, untuk mendapatkan kencan sejaman dengan gadis-gadis TSC, setidaknya butuh modal sekitar Rp 400-500 ribu.
Maklum, sebelum sampai pada tahap transaksi seks, setiap tamu mau tidak mau meski menunggu paling tidak setengah jam. Dan rasanya tidak mungkin kalau selama dalam proses menunggu itu hanya diam duduk bengong di kursi tanpa memesan minum. Belum lagi, kalau gadis kencan yang di”boking” juga rajin order minuman beralkohol.
“Masuk yuk, Bang. Biar temannya nggak lama nunggu kalo udah kelar,” ajak Yenny. Sore pun berlalu dengan cepatnya. Kalau sebagian orang Jakarta ada yang menghabiskan sore dengan menikmati afternoon tea atau coffee time di kafe kafe mal, di TSC puluhan laki-laki terlena dalam hangatnya pelukan gadis-gadis seksi dengan pelayanan afternoon sex-nya.
Baca juga : koleksi foto seksi banget












0 komentar:
Posting Komentar