Sabtu, 06 Mei 2017

BLUE SAUNA EROPA TIMUR (3)

BLUE SAUNA EROPA TIMUR (3)



Kehidupan Dunia Malam - Istilah “garing” sering digunakan anak-anak gaul di Jakarta untuk mengekspresikan sesuatu yang bersifat basi dan tidak mengasyikkan. Tanpa banyak basa-basi Chandra dan Riko langsung memanggil pramusaji yang bertugas. Tapi saya lebih dulu punya permintaan. Menurut saya, kalau wanilta escort-nyapribumi, sudah bosan. Makanya, mesti yang lain, ya apalagi kalau bukan gadis-gadis dari Eropa Timur itu.


“Lo tenang aja. Kita pesan satu-satu. Chan, lo pesan sekarang dong,” ceplos Riko disambut dengan tawa Chandra. Untuk beberapa saat lamanya, Chandra keluar ruangan meninggalkan kami. Saya tak heran, sebagai sosok yang sehari-hari menggeluti bisnis advertising yang sudah lama mengenal dunia dugem Jakarta, Chandra tentu saja mengenal dengan baik “orang-orang” di MS. 


Dari tingkat staf, manager sampai owner. Hanya butuh waktu tak lebih dari 10 menit, Chandra sudah kembali ke tempat duduknya. Bibirnya menyungging senyum senang. Dengan langkah lebar, Chandra memandang ke kami dan bersantai di sofa. Chandra langsung meneguk segelas jackdie dengan Coca-Cola dan es batu. Tentu saja, Chandra tak mau minum sendirian, dia mengajak kami ber-toast bersama.

Kami akhirnya meminta operator untuk memutar lagu-lagu berirama slow. Hanya sekali dua kali, saya menyempatkan diri menyanyikan lagu Indonesia yang lagi populer. Dari pintu masuk muncul seorang wanita berpakaian rapi. Umumya sekitar 40 tahun lebih. Di dada sebelah kanan, tertulis namanya: Lili. Dia menghampiri kami yang masih saja asyik minum-minum.

“Pak Chandra, mau milih di sini atau ke ruang display atau mau lihat foto aja?” tanya Lili. Oh, rupanya Lili ini menjadi salah satu koordinator gadis-gadis Eropa Timur di karaoke MS. Menurut Lili, malam itu, stok paling banyak adalah gadis Uzbekistan, Filipina, Thailand dan tentu saja, gadis-gadis lokal. Gadis asal Tajikistan ada sekitar tiga orang, sementara dari Rusia ada dua orang.

“Saya bawa langsung ke sini saja ya Pak Candra, Pak Riko.” “Iya, Mami Li. Bawa ke sini aja. Sama aja kan. Yang Uzbek, Tajikistan sama Rusianya saja,” sergah Riko. Untuk sesaat saya kembali mengamati keadaan “home theatre”. Hanya ada sofa dan meja lalu kamar mandi. Nah, bagaimana mungkin ada kencan seks kalau ruangan tidak menyediakan fasilitas kamar tidur.

“Kencan seks-nya bukan di sini. Tapi di lantai tiga. Kan judulnya kita ini mau shiat-su atau sauna,” jelas Riko dengan bersemangat. Ternyata, home theatre itu bagi sebagian tamu di MS dijadikan sebagai tempat untuk memilih gadis pemijat yang akan menemani di kamar atau di sauna. 


Jam di dinding sudah menunjuk pukul 21.45 WIB, di ruangan karaoke ada sekitar lima gadis Uzbek, dua dari Tajikistan dan dua lagi dari Rusia. Mereka berdiri di depan kami sambil menebar senyum. Kemudian mereka mengenalkan diri satu per satu. Buat saya, ini pemandangan yang menakjubkan karena mereka, terus terang, punya wajah cantik dan badan seksi. 

Saya bingung, mana yang Uzbek, mana yang Rusia atau mana yang berasal dari Tajikistan. Habis, semuanya tidak ada bedanya. Baik dari warna kulit, rambut, postur tubuh dan gaya bicaranya. Mau nggak mau, saya hanya berulang kali bertanya sama Riko. Kata Riko, dari mana saja sama, yang penting judul besarnya satu: Eropa Timur.

“Udah lah. Sama aja kan. Uzbek kek, Tajikistan kek atau Rusia, sama-sama cantiknya kan. Udah, pilih aja satu yang paling oke,” ceplos Riko enteng.





0 komentar:

Posting Komentar