TANGJU & HAND-ROLL SERVICE AFTER LUNCH (4)
Kehidupan Dunia Malam - Nah, sesekali ketika punya hayalan atau ingin mencari sensasi rekreasi yang yang berbeda, beberapa teman memilih karaoke sebagai pelabuhan terakhir. Seperti malam itu, di penghujung Januari 2003, kami yang sudah bosan menyodok bola biliar selama 1 jam-an, akhirnya sepakat untuk naik ke lantai tiga.
“Ke karaoke aja yuk. Boring nih nyodok bola melulu, mending nyodok yang lain,” seloroh Raymond. Kami pun menuju ke lantai atas setelah membereskan tagihan meja. Kami berjalan menuju pintu keluar yang letaknya berada di samping bar. Pintu keluar itu tertutup tirai hitam panjang.
Begitu terbuka, akan terhampar pemandangan ruang lobby yang lumayan besar. Dua resepsionis di bawah siraman lampu terang memasang senyum manisnya; menyambut tiap tamu yang datang.
Baca juga : PARADISE For Men, Apa Yang Anda Pikirkan???
Di samping kiri terdapat arena biliar lagi khusus tamu VIP, sementara di samping kanan terlihat dua penyanyi wanita tengah beraksi di atas panggung. Beberapa tamu ikut bergoyang di depan panggung.
“Mau mampir ke kafe dulu atau langsung ke karaoke?” tanya Zack.
“Di kafe mau ‘nyodok’ apaan. Entar lama lagi. Langsung ke karaoke aja,” tegas Raymond.
Kami berjalan menaiki tangga dari besi. Suasana sedikit temaram. Musik yang diusung DJ masih saja terdengar mengisi seisi ruangan. Baru ketika kami sampai di lantai dua, musik hanya terdengar lamat-lamat.
Kami disambut pramusaji laki-laki yang menyilakan kami menempati kursi di ruang lounge yang kosong. Seperti yang digambarkan di atas, di lounge inilah kami bisa bersantai sejenak sambil melihat-lihat sejumlah LC yang ingin dikencani sambil menikmati sajian live music.
Kami hanya sejenak duduk sambil menunggu ruangan karaoke yang kami order. Setelah satu lagu berlalu, kami pun segera beranjak. Ruangan karaoke sudah tersedia dan siap ditempati.
Kami memasuki lorong ruangan memanjang dengan cahaya temaram. Dinding ruangan bercat biru menyatu dengan cahaya bias lampu neon yang redup. Di kiri kanan terdapat kamar-kamar karaoke yang tertutup rapat Beberapa pramusaji tampak stand-by menunggu order.
Ruangan- ruangan itu masing-masing bertuliskan nama-nama jenis aliran musik. Kami menempati ruangan “Classic Rock” yang letaknya berada di paling ujung. Biasalah, pada jam 19.00-23.00 WIB, apalagi malam Sabtu, karaoke di KB selalu ramai.
“Silakan, Bos. Pak Kus bentar lagi ke sini,” ucap pramusaji yang mengantar kami. Yang dimaksud dengan Pak Kus adalah salah seorang asisten manager di karaoke yang juga merangkap sebagai “papi” yang biasa mengatur para LC dan stripper.
Kami lumayan kenal baik dengan Pak Kus yang hampir tiga setengah tahun bekerja di klub KB. Tentunya, Pak Kus mengawali karirnya udak langsung menjadi asisten manager tapi dimulai dengan menjadi staf biasa.
Selain bertanggung jawab terhadap operasional karaoke, sehari-hari Pak Kus juga sekaligus menjadi “perantara” bagi sejumlah tamu langganan yang ingin memboking LC atau penari. Lewat Pak Kus ini, tamu langganan tak perlu lagi mondar-mandir.














0 komentar:
Posting Komentar