Senin, 22 Mei 2017

SEX LOCKEROOM

SEX LOCKEROOM



Kehidupan Dunia Malam - Nama itu spontan ke luar dari mulut David. Pandangan David seperti terhipnosis untuk beberapa saat. Sebuah lampu berwarna kuning menerangi sebuah sofa berbentuk bulat. Seorang gadis bermata sipit duduk dengan anggun di sofa itu. Kakinya menyilang hingga sebagian betis mulusnya terlihat jelas, sementara dua tangan mungilnya bertumpu pada dua pahanya. Gayanya tak kalah dengan model-model yang mengenyam pendidikan attitude.


“Maksud elo Shu Qi yang artis Mandarin itu?” sergah saya coba menebak apa yang ada di kepala David.
“Iya. Elo kan sering nonton film Cina, mestinya tahu dia dong. Gimana sih?” jawab
David, singkat. Sementara, ehm.. .dua mata David menatap lekat, mengamati segala gerak-gerik gadis yang mirip Shu Qi itu.

Well, bisa jadi sih, gadis yang mengenakan baju serba biru itu mirip Shu Qi. Itu lho, salah satu aktris Mandarin yang belakangan sering nongol di layar lebar. Mereka yang doyan nonton film-film Cina, pasti sudah tak asing dengan wajah dan sosok Shu Qi. Tubuh langsing. 

Rambut panjang mengikal. Bentuk hidung dan bibirnya mungil menggemaskan. Lingkaran dada 32 dengan ukuran “cup C”. Alamak, kalau dipikir-pikir, omongan David memang ada benarnya. Is she a pretty girl? Yup, definitely. 

Ya iyalah. Kalau ada cewek yang mirip Shu Qi, pastinya cantik. Penilaian itu terasa sempurna ketika dia berjalan mendekati meja bar. Saya dan David tak menyia-nyiakan kesempatan itu, kami mengamati semua gerak-geriknya. Cewek itu mendekati seorang tamu dan saling memberi kecupan di pipi kiri-kanan. 

Mereka duduk berdekatan, dekat sekali malah. Segelas Long Island terhidang di meja bar. Mereka berbicara dengan wajah berdekatan, nyaris seperti orang yang mau berciuman. Hanya sepuluh menit, lalu si cewek itu pindah lagi ke sofa, bergabung bersama rekan-rekannya.


Beautiful!
“Bukannya elo biasa kelayapan malem, masak nggak pernah ngeliat doi?”
“Ini pasti stok baru. Udah hampir sebulan gue nggak ke sini,” jawab David.
“Namanya Paula, Bos,” kata bartender yang menuangkan minuman ke gelas saya.


Dari gelas kaca yang kembali diisi cairan minuman, bayangan gadis itu terpantul. David mengangkat gelasnya, lalu menenggak isinya sampai kandas seolah Paula pun berada dalam genggamannya.
Oooo… Paula!

Lesbian Show
Namun, saya jadi terheran-heran melihat David begitu terpesona melihat sosok Paula. Why? That’s the biggest question mark on that night, swimming in my head. Padahal, di sofa itu ada sekitar dua belas gadis Mandarin yang duduk berdesakan. 

Rata-rata berwajah cantik dengan dandanan seksi. Bahkan, ada yang cuma membungkus tubuhnya dengan baju tipis tanpa bra. Laki-laki normal, mestinya lebih tertarik dengan gadis yang no bra ini.





0 komentar:

Posting Komentar